Januarinya sudah selesai dan cerita pun belum usai. Sepertinya memang belum bisa cerita banyak, walaupun sudah melewati banyak cerita.


Bercerita memang gak semudah itu, walaupun dengan bercerita, hati perlahan bisa lebih lega dan utuh.


Baru di tahun ini gak bisa mengejar ketertinggalan di tantangan ini, tapi justru aku belajar bahwa akan ada selalu yang lebih prioritas dalam hidup ini. Bercerita memang menjadi sebuah hal yang menyenangkan untukku, tapi ada banyak hal yang ternyata lebih penting untukku.


Tapi gara-gara nulis, aku berhasil mendapatkan banyak hal. Mulai dari relasi baru, pengalaman baru, dan yang paling terpenting adalah bercerita memberikan tempat terapi termurah untukku. Kalo kata paus "Writing is a Therapy to Stay Sane, to Feel Okay".


Mungkin di tantangan yang akan datang, aku bisa mempersiapkannya lebih matang, setidaknya agar tulisanku berkembang.


Yaudah, sekian, sampai jumpa di lain kesempatan.


Jakarta, 31 Januari 2022


"Jika tidak tahu apa-apa, jangan mengangkat suara, itu hanya membuat terluka."


Kalimat itu aku tulis di tahun 2019, entah karena apa, tapi itu tersimpan rapi di dalam arsip akun ini.


Terkadang kita memiliki niat baik kepada orang lain, akan tetapi karena eksekusinya yang keliru, niat baik itu malah terlihat jahat di mata orang tersebut. Awalnya ingin bersimpati, tapi kesannya malah menghakimi.


Perbuatan kita yang keliru itu muncul karena kita belum pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Karena mereka yang pernah mengalami akan jauh lebih mengerti dari kita yang hanya menerka sesuka isi hati.


Adakalanya tidak memberi pendapat merupakan hal yang tepat.

Adakalanya hanya sekadar mendengarkan malah jauh lebih memberikan kenyamanan.

Adakalanya menyediakan bahu lebih baik daripada menjadi yang paling tahu.


Jakarta, 17 Januari 2022


Pilih mana? Starbucks atau Starling?


Ah, tidak peduli kopi apa yang kamu minum, selagi itu bersama orang yang tepat, kopi itu akan tetap terasa nikmat.


Sudah berapa kali aku temukan video yang isinya membandingkan antara kopi murah dan kopi mahal, padahal keduanya sama-sama kopi, tidak ada yang istimewa dari kopinya. Minum air putih dengan orang yang kamu anggap istimewa pun sudah mampu membuatmu bahagia, karena bahagia itu gak mahal, yang mahal ya gengsimu itu.


Semua itu masalah kenyamanan, gak peduli mau minum kopi sambil ditemani mie instan ataupun croissant.


Jadi, tidak usah sibuk membandingkan antara yang satu dengan yang lainnya. Tidak perlu membuat standardisasi, setiap orang punya bahagianya sendiri-sendiri.


Jakarta, 16 Januari 2022




Number 7 Room's Gift atau lebih dikenal dengan Miracle in Cell No.7 adalah film yang sampai saat ini masih sangat berkesan dan berbekas di hati ini. Kalo mau flashback ke belakang, aku masih ingat dengan jelas itu masih pagi, ya sekitar jam 6 aku menyelesaikan film itu, dan tau apa yang terjadi denganku di atas kasur saat pagi hari itu? Ya, aku tentu menangis, tersedu-sedu, hidung sudah meler sampai dada ikut sesak, separah itu memang filmnya.

Bagaimana tidak, film yang kalo kamu cari di internet memiliki label komedi ini sangat penuh makna. Kamu bisa menemukan sebesar apa kasih sayang orang tua dengan anaknya dan sebesar apa pengorbanan orang tua kepada anaknya. Kamu pun bisa melihat sejahat apapun manusia, mereka tetap manusia yang masih memiliki jiwa kemanusiaan, masih memiliki kasih sayang dan dipenuhi kebaikan. Lalu kamu pun akan melihat, bahwa menjadi saudara tidak perlu sedarah dan membalas kebaikan tetap bisa kamu berikan walau dia sudah tidak ada. Satu lagi yang hampir tertinggal. Bahwa, jangan menyalahgunakan jabatan yang kamu miliki, jangan sampai hal tersebut menutup matamu untuk mencari titik temu.


Film ini terlalu memberi banyak pelajaran tentang hidup, mungkin untukmu yang mengaku memiliki hati baja, kamu bisa mencoba menonton film ini. Aku tidak bisa menjamin kamu akan menangis setelah menonton film ini, tapi aku berani menjamin bahwa kamu bisa dapat banyak pelajaran dari film ini.


Jakarta, 15 Januari 2022


Foto ini diambil di sebuah pameran seni di Kemang, yaitu Indonesian Contemporary Art and Design pada 19 November 2021.

Foto yang tidak perlu diberi takarir, tapi dapat membuat kita sadar dan memahami takdir.


Semua ada waktunya, apapun itu.


Entah waktu untukmu akhirnya sadar, bahwa ini tidak benar.

Entah waktu untukmu akhirnya mengerti, bahwa ini memang harus diakhiri.


Entah waktu untukmu akhirnya sadar, bahwa ini memang benar.

Entah waktu untukmu akhirnya mengerti, bahwa ini harus dijalani dan disyukuri.


Semua ada waktunya, apapun itu.


Abadikan semua kejadian yang membuatmu bahagia, sebelum akhirnya berpisah.


Abadikan semua kejadian yang membuatmu bahagia, untuk nanti jadi cerita di teras rumah.


Semua ada waktunya, apapun itu.


Nikmati saja perjalanan ini, sampai akhirnya kamu mengerti.


Jakarta, 14 Januari 2022


Mau tau definisi sayang yang sebenarnya? Coba tanya kepada mereka yang memelihara kucing.

Sudah berapa banyak barang yang hilang, tapi masih tetap disayang.

Sudah berapa banyak barang yang pecah, tapi masih tetap diajak becanda.

Sudah berapa kali dihadiahi luka, tapi masih tetap menjadi teman cerita.


Bekasi, 13 Januari 2022


"Apa yang sangat kutakutkan?...

Bahkan saat segalanya berat, aku masih bahagia...


Take it slow, slow, go slow!..." — Slow - Sole


Keputusan terbaik apa yang pernah gua ambil? Tentu ketika akhirnya gua diangkat jadi Ketua Himpunan. Hampir selama masa SMP sampai SMA gua gak pernah yang namanya ikut organisasi sekolah, pernah sih, sekali pas SMP, tapi ya cuma selewat aja dan gua juga gak tau tugas gua apa saat itu.


Kenapa gua bilang menjadi Ketua Himpunan adalah keputusan terbaik, ya karena setelahnya gua benar-benar merasakan perubahan dalam hidup gua. Gua yang aslinya pemalu terus dipaksa harus tampil di depan sehingga akhirnya gua jadi terbiasa. Mulai harus jadi delegasi dari Himpunan hingga menjadi penanggung jawab beberapa kegiatan. Mengurus proposal, LPJ, pameran, sosialisasi dengan Himpunan yang jauh lebih besar, berbaur, dan banyak lagi hal baru yang akhirnya gua lakukan saat menjadi Ketua Himpunan.


Kalo ditanya, senang? Ya tentu, sangat. Tapi dari semua itu, jujur gua sangat takut, takut gagal dalam mengurus organisasi, gagal bertanggung jawab, gagal mengajari adik-adik yang nantinya naik setelah gua, gagal memberikan yang terbaik, dan takut akan gagal-gagal lainnya. Bahkan saat takut-takut itu datang, gua tetep berusaha untuk tetap bahagia agar bisa terlihat tenang.


Kalo boleh dibuka isi kepala, isinya pasti cuma takut dan gak percaya diri. Tapi semua perlahan sirna ketika gua yang gak percaya sama diri sendiri ini dipercaya sama orang lain. Semua rasa takut tetap ada, tapi menjadi lebih ringan ketika ternyata ada mereka yang masih percaya bahwa gua bisa.


Jadi, take it slow, pelan-pelan. Apapun hasilnya nanti, gua gak akan pernah menyesal. Karena gua tau, gua sudah berusaha untuk maksimal.


Jakarta, 12 Januari 2022


Bukannya ditambal, malah tambah tertinggal. Ya mau bagaimana, masih ada tugas negara.

Ada yang suka Marvel Cinematic Universe? Kalo ada, mungkin kalian akan ingat dengan perkataannya mas Sam.


"Satu-satunya kekuatanku adalah aku percaya kita bisa berbuat lebih baik. Kita tidak bisa menuntut orang jadi baik jika kita tidak memberikannya teladan." — Falcon and The Winter Soldier


Sering kejadian mungkin di sekitar kita. Berharap penerus kita bisa jadi orang yang lebih baik, tapi tidak pernah memberikan yang terbaik, atau setidaknya mencontohkan bagaimana caranya berbuat baik.


Mudahnya, jika kita ingin melihat bunga yang indah di masa depan, kita juga harus merawat bunga tersebut supaya tumbuh dengan menawan. Jangan hanya menebar benih, tapi lupa untuk menjaganya dengan gigih.


Jakarta, 11 Januari 2022


Punten, mau rapel sebentar. Maklum, minggu-minggu menjelang UAS, otak lagi panas tapi tugas tetep harus digas!

Jadi akhir pekan kemarin gua main futsal dan ya, kami kalah orang dan kalah fisik, jadi intinya kami kalah, hahahaha.


Tapi terlepas dari itu, gua punya prinsip kalo semisal gua kalah dan gak bisa mengejar ketertinggalan itu, gua lebih memilih bermain untuk sekadar senang-senang.


Iya, gua lebih milih untuk bermain sebahagia gua, ketimbang udah kalah, terus berujung cuma dapet lelah.


Namanya juga permainan, gak selalu harus menang kan?


Setidaknya selesai main futsal, gua tetep bisa tertawa lepas sambil ghibah gak jelas.


Depok, 10 Januari 2022


Ada dua hal dari begitu banyak hal yang manusia selalu berusaha untuk memberinya makan, yaitu eksistensi dan gengsi.

Sering melakukan banyak hal di luar kemampuan, agar keberadaannya terlihat oleh banyak orang. Tak jarang pula ada yang akhirnya berpura-pura, agar dianggap ada di mata manusia.


Ada pula yang memaksa serba ada, padahal untuk hari esok pun dia bingung harus bagaimana.


Hidup memang berat, tapi ketika bertemu dengan orang yang tepat, semua akan berjalan sangat cepat.


Tidak perlu berpura-pura agar bisa dianggap ada. Tidak perlu berusaha serba ada agar bisa terlihat istimewa. Akan ada saatnya kita bertemu dengan orang yang senada dan bisa menerima kita apa adanya, tanpa harus memandang sebelah mata.


Bekasi, 9 Januari 2022


Saat pandemi sedang naik-naiknya, kita dipaksa untuk tetap di rumah saja. Kuliah di rumah, kerja di rumah, ghibah di rumah, main di rumah, semuanya serba di rumah. Banyak hal yang ingin kita temui atau kita kunjungi hanya menjadi angan yang semu.

Salah satu tempat yang ingin aku kunjungi adalah asrama ini, asrama yang sudah mengasuhku selama 6 tahun lebih. Bahkan dulu bisa dibilang adalah rumah pertama.


Akhirnya setelah pandemi menurun dan vaksinasi sudah merata, aku kembali mampir ke sana. Ya sekadar duduk di pinggir lapangan.


Kalo ditanya kenapa mau ke sana? Ya jawabannya simpel, dengan mampir ke sana, aku jadi kembali ingat asalku dan kembali ingat apa yang aku mau dan kutuju.


Sekadar duduk di sana tuh membuat hatiku jadi tenang. Entah, adem gitu rasanya. Ada perasaan yang ringan, seolah gak ada beban.


Yaa memang, terkadang kita butuh tempat untuk kembali, sekadar untuk mereflksikan diri dan memahami apa yang sedang dicari.


Depok, 8 Januari 2022


Hari ini agak lumayan pusing karena nugas mulu, sampai akhirnya tadi iseng main PES, ya lumayan 2 match gitu.

Pernah mikir sejenak gitu, kenapa temen-temen gua yang sibuk banget tuh main PES-nya bisa sejago itu. Maksudnya, kapan gitu mereka latihan mainnya.


Sampai akhirnya gua sadar, kalo dulu gua terlalu betah berada di level tengah kita main PES, terlalu takut buat mencoba ke level selanjutnya. Padahal kalo gua kalah pun, ya gak apa-apa, toh cuma permainan kan. Tapi ya itu, gua terlalu takut untuk gagal.


Padahal sesimpel kita mulai dari yang level paling mudah, terus mulai maju ke level yang lebih susah. Perlahan ya kita akan terbiasa dan mulai bisa mengimbangi. Intinya mah jangan terlalu nyaman dan betah di posisi kita sekarang, upgrade dikit-dikit, gak harus menang, setidaknya ada perkembangan.


Bekasi, 7 Januari 2022


Setiap orang punya waktu dan tempat yang menjadi favoritnya. Misalnya, pojokan kamar saat hujan, bisa juga di tengah taman saat angin bermain dengan awan, atau bahkan tepi pantai saat matahari sedang aduhai.


Kalo aku sendiri jujur paling suka saat malam hari di tengah perjalanan pulang. Hampir setiap ada kegiatan di luar, mau itu selesainya siang atau sore, pasti tetep maksa supaya pulangnya malam. Selain menghindari macet, di waktu-waktu tersebut aku merasa ada keseruan tersendiri.


Di bawah cahaya kota, aku menikmati perjalanan pulang menuju rumah. Diiringi playlist pilihan, perlahan aku mulai merasa nyaman, mulai tidak peduli dengan kemacetan dan juga suara klakson yang berbunyi tanpa alasan.


Terkadang suasana tersebut memanggil kembali kebahagiaan yang telah lalu, sehingga aku tersenyum dan tertawa sendiri ketika mengingatnya. Tidak hanya memanggil kembali bahagia, suasana tersebut pun sering mengingatkanku kepada kenangan sedih yang membuat keramaian jalan menjadi terasa sepi.


Entah mau dibawa ke mana tulisan ini, tapi yang pasti apapun hal terfavorit yang kita miliki, mau itu waktu, tempat, dan bahkan manusia sekalipun, tidak akan selalu membawa kita kepada bahagia. Bisa jadi hal-hal tersebut malah membawa kita kepada sebuah duka yang sangat susah untuk dilupakan.


Jakarta, 6 Januari 2022



Waktu itu saat di perjalanan pulang, gak sengaja melihat 2 ruas jalanan yang memiliki keadaan berbeda. Sebelah kanan lancar jaya dan sebelah kiri macetnya bikin gila.


Sekilas terbayang, "Kok ruas jalanan ini mirip sama beban hidup yak."


Iya, jalanan bagian kiri adalah beban-beban yang masuk ke dalam kehidupan kita. Sedangkan jalanan bagian kanan adalah beban-beban yang akhirnya terselesaikan dan perlahan keluar. Terlihat tidak imbang bukan?


Walaupun begitu, akan ada satu waktu di mana kedua jalanan tersebut sama-sama lancar. Sama kayak beban hidup, adakalanya antara beban yang masuk dan keluar seimbang, membuat kita tidak kewalahan.


Eits, belum selesai. Adakalanya juga kedua jalanan tersebut sama-sama bikin gila karena terlalu padat. Ya sama kayak beban hidup, adakalanya beban datang silih berganti, tanpa kita diberi jeda untuk menyelesaikannya. Tapi percaya, akan ada satu celah di mana jalanan tersebut akhirnya lancar jaya. Yang jadi masalahnya, kapan itu terjadi? Yaps, saat pengguna jalannya bisa saling mengalah dan saling menghargai.


Sama kayak beban hidup, adakalanya kita perlu memutuskan masalah mana yang harus mengalah untuk diselesaikan. Lihat skala prioritas, mana yang paling darurat, mana yang paling dekat, dan mana yang dan mana yang paling bisa selesai dengan cepat. Dengan begitu, beban-beban tersebut akan selesai secara perlahan.


Yaa walaupun nanti akan datang beban yang baru, tapi setidaknya kita bisa santai dan tidak terburu-buru.


Bekasi, 5 Januari 2022

 


Udah kelewat waktunya ya? Iya tau, maaf. Hari ini banyak kelas yang diundur, jadi milih buat tidur. Alhasil jam segini bukannya tidur, malah melantur.

 

Tadi niatnya mau rapel sekalian pagi aja, tapi keinget pernah nulis ini.

 

Harus ditempa, supaya gagah.

Harus ditampar, supaya kekar.

Harus dihujat, supaya kuat.

Harus dibuat jatuh, supaya utuh.

Karena pada akhirnya semua harus dilewati, agar kita bisa memantaskan diri.

 

Ya jadi gitu, sekian, mau lanjut nonton dulu kita


Bekasi, 4 Januari 2022

 


"Lu kalo cerita biasanya ke siapa?"

 

Sempat muncul pertanyaan singkat yang membuat gua terdiam dan berpikir.

 

Perlahan tertampar dan bilang sama diri sendiri, "Sial, baru sadar gua."

 

Selama ini gua bukannya gak pernah cerita, sering malah. Tapi yang jadi masalahnya adalah, apakah selain cerita bahagia gua bakal ceritain juga?

 

Selain ke orang tua dan Sang Pemilik Semesta, gua rasa gua gak pernah benar-benar menceritakan kesedihan gua, karena gua berpikir "Untuk apa?", kenapa harus kesedihan kita yang diobral.

 

Tapi, tiba-tiba ada pesan yang bikin gua lebih terdiam, merasa bahagia dan sedih secara bersamaan.

 

"Besok-besok jangan nangis sendiri. Kalo ada masalah cerita sini geh ke gw biar gw bisa punya lebih banyak aib lu buat ledekan."

 

Terkesan bercanda, tapi buat gua yang gak pernah terpikirkan untuk berbagi kesedihan itu adalah kalimat yang sangat hangat.

 

Gua terlalu sering menahan apa yang seharusnya dikeluarkan. Terlalu sering mendiamkan apa yang seharusnya diungkapkan. Padahal kesedihan sama seperti kebahagiaan, harus dilepaskan, agar pikiran bisa jauh lebih ringan.

 

Menangis sendiri di malam hari memang seru, tapi menangis sambil bercerita dengan orang yang tepat itu jauh lebih membuat utuh.


Bekasi, 3 Januari 2022

 

Sumber: PSSI

Bambang Pamungkas, Firman Utina, dan Ferry Rotinsulu. 3 Nama yang membuat gua lebih jatuh cinta dengan Timnas Indonesia.


Sejak saat itu, gua mulai tergila-gila sama Timnas Indonesia. Mulai dari bikin satu-persatu pemain Timnas di PES/WE (Karena dulu gak semua patch ada Timnas), hafalin nama-nama pemain plus sama nomor punggungnya, beli jerseynya (walaupun dulu gak tau cara main bola), selalu menggunakan pemain Timnas saat main bola kertas, dan banyak lagi dah.


Melihat permainan tadi malam, jujur gua pribadi kesel, tapi merasa puas. Mungkin karena sudah tau lawannya Thailand, jadi gak terlalu kaget kalo hasilnya seperti itu.


Tapi terlepas hasilnya, gua sangat senang melihat antusias masyarakat saat mendukung Timnas Indonesia. Bahkan banyak video beredar memperlihatkan sekumpulan orang yang awalnya tidak saling kenal, tiba-tiba jadi teriak bareng gara-gara nonton Timnas.


Jadi, menang ataupun kalah, Timnas Indonesia telah berhasil mempersatukan kita.


Semoga di kompetisi selanjutnya kita bisa teriak bareng karena Timnas Juara ya!


Indonesia, 2 Januari 2022


Gak gak, cape bahas resolusi mulu. Gua yakin bukan gua doang yang resolusinya belum tercapai semua, entah dari tahun kapan.


Sekilas terlintas di kepala, dari pada pusing mikirin resolusi yang belum jadi, kenapa gak kumpulin semua pencapaian yang sudah dicapai di tahun kemarin. Gua yakin kita semua punya pencapaian di tahun kemarin.


Ada yang bilang gak punya pencapaian? Coba deh turunin standar pencapaian itu, jangan yang tinggi-tinggi dulu. Mulai dari pencapaian kecil, misal bangun pagi di akhir pekan, atau mungkin mulai mengurangi begadang demi kesehatan? Gua yakin ada, tapi kita sering lupa karena menganggap hal itu biasa. Padahal kan hal besar dimulai dari yang kecil.


Ada satu hal lagi yang bisa jadi pengganti dari resolusi, yaitu #MimpiBloon, satu ide yang digagas sama Papah Instagram Boy Lagi. Dengan mengganti kata resolusi jadi #MimpiBloon gua yakin kita gak akan terlalu kecewa kalo gak tercapai. Ya namanya juga #MimpiBloon, tercapai alhamdulillah, gak tercapai ya gak apa-apa.


Bekasi, 1 Januari 2022