Punya makanan favorit? Kebetulan banget gua lagi demen sama salah satu ayam sambel ijo yang pedesnya bikin mondar-mandir kamar mandi. Emang gak bisa bohong, rasa sambelnya tuh enak, tapi ya gitu bikin sakit. Entah berapa kali gua makan dan berujung sakit perut. Ya itu tetep gua ulangin terus, sampai akhirnya (mungkin) gua akan kapok.

Gua mikir, bakal dateng satu waktu di mana gua tau ini makanan gak baik buat gua dan harus gua tinggalin atau mungkin tetep bisa gua makan, tapi cuma sesekali aja. Gak menutup kemungkinan juga, nanti malah dateng satu makanan yang lebih enak dan lebih bikin tersiksa. Terus keulang lagi deh lingkaran setannya.


Gua nulis ini bukan karena mau review ayam sambel ijonya, gua nulis ini karena gua kepikiran dengan hubungan-hubungan yang lagi sering kejadian akhir-akhir ini di tengah-tengah kita.


Mungkin lu juga pernah melihat, mendengar, atau malah merasakan hubungan ini. Di mana lu berada di sebuah posisi yang lu tau gak ada kejelasan di sana. Tapi karena lu udah terlanjur nyaman, akhirnya lu tetap berada di sana.


Sampai nanti mungkin lu sadar dan memutuskan untuk menerima bahwa ini gak bisa diteruskan. Tapi bukan berarti lu memutuskan hubungan, sama seperti ayam tadi, mungkin lu gak bisa makan sering-sering, tapi ya sesekali gak apa-apa. Lu tetep bisa main, bercanda, tukar pikiran, berekeluh kesah, dan semua hal yang lu udah sering lakukan bersama. Walaupun tidak sebebas dulu, tapi lu tetep bisa bertemu, ya sebatas melepas rindu.


Terkadang mungkin lu mau teriak dan bertanya,

"Kenapa sih banyak sekali keyakinan di dunia ini?"


Tapi lu gak boleh teriak seperti itu dan lu juga gak boleh menyalahkan perasaan lu itu. Sakit? Berat? Pasti itu mah. Sekatnya yang begitu tinggi, sampai tidak bisa dikalahkan oleh tulusnya hati. Sekatnya yang begitu kuat, sampai tidak ada yang berani untuk mengganggu gugat.


Gua sempat baca dan sangat setuju dengan cuitan Tsana ini,


"Adulting versi gw kok jadi udah bodo amat soal confession ya? Maksudnya kayak if i like someone, i'll tell them atau lagi kangen seseorang ya bilang. Udah gak mikir jawabannya, yang penting lega aja."


Terus gua jadi mikir, mungkin untuk sebagian orang yang tau bahwa sekat itu gak bisa diganggu gugat memutuskan untuk menyatakan apa yang dia rasakan. Tapi dia menyatakan itu bukan untuk mengharapkan balasan, lebih ke arah untuk melegakan perasaan.


Tapi ya itu, gak semua orang bisa bersikap biasa aja setelah menyampaikan atau mendengar sebuah pernyataan. Ada yang malah merasa canggung sampai akhirnya bingung. Sampai janji untuk selalu ada pun mungkin akan buyar karena merasa perasaannya gak terbayar.


Akhirnya bagai makan buah simalakama. Niatnya ingin melegakan perasan, eh malah jadi berjauhan. Niatnya ingin tetap apa adanya, eh semakin hari malah semakin jatuh hati. Ya satu hal sih, hebatnya perasaan ini tuh walaupun lu gak sampaikan, perasaan itu tetep bisa dirasakan dan mungkin semua sama-sama sadar, tapi memilih untuk bahagia dalam diam.


Bekasi, 24 Oktober 2021


Gak bisa tidur. Ya, di otak gua masih terputar scene-scene dari episode 15 Hometown Cha-Cha-Cha. Gua adalah tim yang tidak terburu-buru untuk menonton itu awalnya, tapi karena ada seseorang yang selalu membahasnya, gua jadi tertarik untuk mengikutinya dan ya, ternyata layak untuk diikuti.

Semua berhak bahagia, walaupun di hari sebelumnya pernah berbuat salah. Semua pernah punya masalah, tapi bukan berarti dia yang berbuat salah. Itu adalah hal yang selalu gua lihat dari setiap episodenya.


Jangan pernah menerka-nerka dengan hati, karena kita tidak pernah tau apa yang pernah mereka lalui. Kita mungkin tidak akan bisa langsung mengerti, tapi kita bisa menjadi tempat untuk dia menumpahkan isi hati. Semua hanya perihal waktu sampai akhir mereka bisa berkata jujur. 


Berpisah bukan berarti karena tidak bisa bahagia. Bersama bukan berarti bisa selalu terbuka. Terlihat dewasa pun bukan berarti tidak pernah punya masalah.


Mungkin semua setuju, di episode 15 ini ada satu orang yang sosoknya membuat kita tertampar. Terlihat dewasa, padahal ternyata terpaksa dewasa. Terlihat kuat, tapi ternyata dipaksa kuat oleh keadaan. Ya, dia adalah I-Jun. Terima kasih I-Jun, terima kasih sudah menyadarkan gua bahwa ternyata sesakit itu menahan rasa sepi dan ternyata tidak perlu menjadi orang dewasa untuk bisa belajar peka.


Mungkin pesan dari Nenek Gam-Ri ini akan menjadi penutup tulisan gua hari ini, "Lihatlah di sekitar kalian, kalian akan menyadari bahwa kalian dikelilingi hal-hal berharga.".


Tarik napas yang dalam, nikmati harimu, jalankan dengan penuh semangat. Istirahat bila sudah mulai penat. Keluarkan jika memang sudah tidak bisa menahan.


Selamat malam dan terima kasih warga Gongjin.


Gongjin, 17 Oktober 2021


Ada yang ikut on-going Hospital Playlist juga gak? Gua baru aja kelar nonton episode 5 dan seperti biasa bukan Shin PD kalo dramanya gak bikin hati hangat. Buat yang gak tahu, Hospital Playlist adalah drama yang menceritakan Slice of Life para dokter di Yulje Medical Center, sisanya silakan ditonton sendiri ya.

Berhubung akhir-akhir ini otak dan hati lagi sering diserang dengan berita duka, gua jadi lebih mudah khawatir dan gelisah. Episode Hospital Playlist kali ini bisa gua bilang berhasil jadi moodbooster dan kesempatan untuk sejenak lari dari kehidupan nyata ini. Mungkin bukan hanya gua saja yang memerlukan moodbooster, karena gua yakin kita sama-sama merasa lelah dengan kondisi yang sedang kita hadapi ini, ditambah banyak sekali berita-berita yang membuat kita semakin kecewa dan marah.


Saat menonton Hospital Playlist, ada dua scene yang membuat gua kembali diingatkan pada sesuatu yang berharga, pertama ketika Kim Jun-Wan dan Ibunya Eun-Ji lagi ngobrol, Ibunya Eun-Ji bilang "Ini kebahagiaan dan keajaiban besar bagi keluarga kami, tapi kemalangan besar bagi keluarga lain". Kemudian yang kedua adalah scene ketika Jang Gyeo-Wool dan Ahn Jeong-Won lagi ngobrol juga, Gyeo-Wool pertamanya bilang "Padahal tadinya aku bingung harus berbuat apa sendirian. Ternyata setelah banyak orang tahu, bisa ada solusi.", lantas Jeong-Won menjawab "Saat ada masalah, kita harus memberi tahu orang lain agar bisa meminta bantuan."


Dari kedua scene itu gua jadi teringat dan tersadar bahwa setiap orang memiliki waktu yang berbeda ketika bahagia dan sedih itu dikarenakan agar kita bisa saling mengisi satu sama lain, agar kita bisa memberi bantuan satu sama lain, agar kita bisa saling menghibur satu sama lain, agar kita bisa menjadi pendengar yang baik untuk satu sama lain. Ketika kamu sedang memiliki kesempatan untuk membantu, maka bantu. Bantu dengan cara apapun.


Seperti kondisi saat ini, yang sehat bisa membantu yang sakit dengan mengirimkan vitamin, makanan, atau hanya sekadar pesan penyemangat, setidaknya beri tahu dia bahwa dia tidak sendiri, bahwa dia punya seseorang untuk diandalkan dan dimintai pertolongan. Jika memang malu untuk memberi pesan penyemangat, setidaknya biarkan nama dia tersemat di doa-doa yang kita panjat.


Terakhir gua ingin bilang, keluar seperlunya dan di rumah seutuhnya. Bagi yang memang harus keluar rumah, tolong tetap selalu jaga kesehatan dan juga protokolnya. Kemudian untuk yang bertugas, harus tetap tegas tapi jangan malah mengegas, informasi bisa lebih mudah diterima, jika disampaikan dengan ramah. Karena mereka yang masih berakivitas di luar bukan karena mereka tidak mengindahkan peraturan, tetapi mereka hanya ingin memenuhi kebutuhan. Seperti kata Bapak Walikota Lubuklinggau “Yang ditertibkan kerumunannya, bukan pedagangnya”. Jadi jangan lupa untuk saling bantu dan tetap patuh agar kita bisa segera kembali utuh. Khawtir secukupnya, taat sepenuhnya. Jangan sampai kepanikan kita menghilangkan rasa kemanusian kita.


Bekasi, 16 Juli 2021


Aku bukan lah bagian dari mereka yang suka merayakan ulang tahun, karena menurutku bertambahnya umur bukan sesuatu yang harus dirayakan, melainkan direnungkan.

Sudah 22 tahun aku tumbuh di dunia, banyak hal yang sudah aku lalui, sadar ataupun tidak sadar. Tantangan demi tantangan aku hadapi, ada yang berhasil aku lewati dan ada juga yang malah aku caci maki.


Berbagai macam lingkungan aku sambangi dan pelan-pelan aku mulai beradaptasi. Ada yang akhirnya jadi ladang relasi dan ada juga yang malah menjadi ladang frustrasi.


Pencapaian-pencapaian orang di luar sana selalu muncul dan membuat iri hati. Tapi perlahan aku sadar, mengapa aku tidak menjadikan mereka sebagai motivasi, toh jalan setiap orang berbeda, walaupun dengan tujuan yang sama.


Banyak keresahan yang membuatku menjadi bosan dan kehilangan tujuan, lalu menjadikan keresahan itu sebagai alasan ketika diriku dirundung dengan kemalasan.


Sering memaksa bangkit, padahal tahu masih ada yang sakit. Sering menganggap produktif sebagai kewajiban, padahal tahu semua masih bisa dikerjakan perlahan.


Tulisan ini sebenarnya hanya untuk mengingatkanku bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, jadi tidak usah memaksa untuk berlari dan tidak mengapa juga untuk berjalan secara perlahan.


Bekasi, 11 April 2021

 


Penulis: Nawang Nidlo Titisari

Penerbit: Mediakita

Tahun terbit: 2020

 

Anak kedua dari Nawang Nidlo Titisari ini berbeda dengan anaknya yang pertama. Jika anaknya yang pertama adalah sekumpulan prosa, maka buku keduanya berbentuk novela.

 

"Cinta dan obsesi itu tipis." (Halaman 77)

 

Bercerita tentang seorang pemudi bernama Anum. Dia tidak pernah menyangka bahwa takdir dari akhir kisah cinta dia akan datang secepat itu. Masih banyak hal-hal yang belum dia ketahui, membuatnya dia menjadi takut untuk melangkah maju.

 

Kisah cinta Anum ini sangat dekat sekali dengan kehidupan keseharian kita. Mulai dari pertemuan maya, hingga akhirnya bertemu secara nyata.

 

Anum berpikir bahwa pertemuannya dengan Satria itu terlalu cepat. Tapi nyatanya, pertemuan itu justru tiba pada waktu yang tepat.

 

"Aku takut di tengah jalan kamu menemukan sesuatu yang bikin kamu gak mau lagi sama aku." (Halaman 64)

 

Menurutku, novel ini sangat ringan, walau dengan pembahasan yang cukup berat. Menikah di usia muda memang hal yang berat bukan di kalangan masyarakat kita?

 

Cara Nawang membawakan cerita ini sangat sederhana sehingga pesan yang dia sampaikan juga mudah diterima.

 

Kisah Anum memberikan secarik pesan bahwa apapun yang kamu pilih, akan selalu datang bersama hal yang kamu takuti. Kamu hanya perlu memilih, hadapi atau tinggal pergi.


Bekasi, 13 Februari 2021

 


Saat aku menulis ini, di Spanyol sana Real Madrid dan Levante sedang turun minum. Keadaannya juga kurang bagus, karena Real Madrid sedang ditahan imbang oleh Levante. Semoga setelah ini ada perubahan yang baik untuk Real Madrid ya.

 

Tapi bicara Real Madrid, ini adalah pertandingan pertama yang aku tonton di tahun 2021 ini, padahal Real Madrid sudah beberapa kali main sebelumnya. Semua ini terjadi karena ada perubahan yang sangat memengaruhi waktu tidurku. Biasanya saat Real Madrid bertanding, aku bisa bangun, karena memang otak ini suka otomatis bangun di sekitar jam 2-3. Tapi semenjak pandemi, jam tidur perlahan berubah, aku seringkali menjadi kelelawar. Jadi ketika Real Madrid main, aku baru saja terlelap, memang sedang tidak berjodoh mungkin.

 

2020 kemarin penuh kejutan, salah satunya adalah pola hidup kita yang awalnya hanya memakai gawai ketika istirahat hingga akhirnya kita memakai gawai setiap saat.

 

Halo 2021! Aku yakin, tidak ada tahun yang tidak baik. Semua tahun, bulan, pekan, hari, jam, menit, dan detik adalah sesuatu yang baik. Tapi bolehkan aku minta untuk lebih baik lagi.

 

2020 sudah mengubah banyak hal. Seperti yang aku bilang, dari jam tidur, kegiatan dengan gawai, dan banyak lagi. Aku tidak terlalu banyak berharap, seperti aku menyambutmu dengan baik, aku ingin kamu juga memberi lebih banyak berita baik.

 

Bisakan 2021? Bisa dong!


Bekasi, 30 Januari 2021

 


"Maap nak menjelang uas tau lah anak desain gimana haha" — Emak-nya FDIK 19'

 

Mungkin di fakultas lain juga mengalami hal yang serupa, super sibuk ketika UAS tiba. Bukannya ingin membandingkan, tapi hanya ingin berbagi cerita.

 

Jujur, kalau dipikir-pikir sebenarnya tugasku tidak banyak, ya tapi bercabang dan perlu ketelitian. Kalau tidak teliti, wassalam. Sekali kamu salah, kamu harus ulang dari awal, karena dari tugas ke tugas itu nyambung, salah di satu titik, harus periksa ulang, kalau ternyata beneran salah, ya gambar ulang, mari kita ucapkan selamat begadang!

 

Begadang sudah jadi hal yang lumrah. Berbagai alasan muncul satu persatu, ada yang karena stuck dan baru dapet ide pas tengah malam, ada juga yang sebenarnya sudah selesai tapi harus ngulang karena salah, ada yang emang enggak bisa atur waktu, ada juga yang punya sifat perfeksionis sama tugasnya, jadi salah dikit saja bawaanya pengen ngulang. Ah, macem-macem lah pokoknya!

 

Intinya kalau sudah memasuki waktu UAS, kami tuh susah buat dihubungi, bahkan buat main keluar saja mikirnya lama banget. Karena takut enggak kekejar tugasnya. Jadi semisal kami menghilang selama beberapa hari, harap maklum, bukannya cuek, tugas kami bener-bener harus teliti dan bikin mata melek.


Bekasi, 29 Januari 2021

 


Mari kita rapel! Bener kalau sudah memasuki waktu UAS tuh jadi banyak yang terlupakan gitu. Tapi tak apa, berhubung dikit lagi penutupan 30HBC21, mari kita selesaikan.

 

Temanya idola ya? Kalau aku ganti panutan gimana? Sama aja gak sih. Kalau bicara panutan, ya sudah pasti tidak lain dan tidak bukan adalah beliau Rasulullah shallahu 'alaihi wa salam. Wong sudah jelas kok ditulis di Al-Ahzab ayat 33. Isinya tuh ini "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..."

 

Jadi sudah ada jawaban pasti yaa soal panutan mah, walau masih sangat jauh sekali pribadi yang nulis, sama yang dijadikan panutan. Tapi tetap berusaha ya

 

Kalau mau bahas selain panutan yang sudah pasti, bisa kok. Mungkin aku akan menyebutkan para panutanku di bidang tulis-menulis.

 

Dari yang pertama ada Uda Ivan Lanin. Kenal beliau dari cuitan-cuitan Bung Fiersa dan akhirnya berujung ngestalk deh. Banyak banget pelajaran bahasa yang aku dapat dari Uda Lanin.

 

Yang kedua ada Bung Fiersa Besari tentunya, selain karena beliau adalah pelopor dari komunitas yang aku sambangi, dari beliau juga aku banyak sekali belajar kata-kata yang baru dan seru. Apalagi akhir-akhir ini Bung Fiersa sering mengadakan tebak-tebakan Bapack-bapack, eh maksudnya kuis bahasa.

 

Dan yang selanjutnya, tapi yang pasti bukan yang terakhir, karena masih banyak sekali panutanku tuh, aku hanya menyebutkan salah tiga dari mereka semua. Beliau adalah Teh Khairina Diar, enggak sengaja bertemu di explore Instagram dan berujung jatuh cinta sama tulisan-tulisannya, pas ditelusuri lebih jauh, eh ternyata Teh Irin juga sering bikin kuis bahasa dadakan. Tinggal nunggu Teh Irin terbitin buku ini mah.

 

Ya mungkin sekian dariku, itu hanya sebagian panutan dalam dunia tulis-menulis. Karena captionnya tidak bisa memuat banyak tulisan, jadi ya sampai jumpa!


Bekasi, 29 Januari 2021

 


Di akhir tahun 2019, gua dapet kesempatan buat ikut menemani teman-teman gua dari salah satu komunitas. Komunitas ini sampai sekarang masih berjalan, tapi sayanya yang jarang berkontribusi. Doain, tahun ini mau lebih aktif, semoga.

 

Gua waktu itu menemani para senior untuk jadi narasumber di salah satu acara radio. Karena excited banget, gua jadi orang yang pertama sampai di radio tersebut. Singkat cerita gua sudah berada di dalam studionya dan di sana gua ditemani sama tiga orang crew dari radio itu. Sumpah, gua enggak tahu mau ngomong apa, jadi gua malah diem terus pura-pura buka hape gitu. Jam sudah menunjukkan waktu untuk on air dan ya, gua masih sendiri di sana. Gua panik, karena jujur, gua belum pernah ke radio, apalagi jadi narasumber. Tahun 2019 mungkin adalah tahun aktif-aktifnya gua di komunitas itu dan gua pun tahu sejarah singkat dari komunitas gua, tapi gak tahu kenapa, nih otak jadi blank, panik kali ya.

 

Jakarta, kenapa hobinya macet sih, kan jadi pada kejebak macet.

 

Tidak bisa diundur dan harus segera on air. Ya, tampilah dia, Daffa yang pemalu sebagai narasumber di paruh pertama. Sebelum mulai, tangan basah dan mata selalu lihat hape, antara lihat materi yang dikirimkan temanku dan melihat keramaian grup komunitasku, dalam hati "Semoga tidak bikin malu."

 

Alhamdulillah, berjalan paruh pertama dengan penuh deg-degan. Penyiarnya bilang, "Gak usah malu, udah bagus kok."

 

Sumpah yak, agak lega pas dia bilang itu dan bersyukur banget, penyiar sama crewnya baik dan bikin gua enjoy.

 

Beberapa menit sebelum paruh kedua dimulai, datang lah teman-temanku ini. Ada yang berbeda saat mereka datang, penyiar pun merasakannya juga. Perbedaannya itu terletak di gua yang tiba-tiba lebih enjoy dan lebih mudah berbicara saat ada mereka ini.

 

Gua jadi sadar, gua tuh sebenernya bukan pemalu, cuma enggak ada yang gua kenal saja. Buktinya, tiba-tiba gua jadi lancar. Berarti memang harus kenalan dulu, entah sama manusianya atau sama medannya.

 

Intinya, gua mau jadi narasumber lagi atau jadi penyiar juga boleh. Ternyata seru. Terima kasih kak Nicak, kak Rie, dan Ara udah ngajak Daffa yang pemalu ini buat ikut tampil.


Bekasi, 27 Januari 2021

 


Jadi, hari ini ada kejadian apa?

 

Dari pagi berpikir kira-kira bakal ada kejadian spesial apa yang bisa aku bagikan.

 

Tapi kenyataannya, ya hariku berjalan seperti hari-hari biasanya. Tidur, nugas, makan, nonton, dan diulangi hingga bertemu hari baru.

 

Lama terdiam, sambil selancar di dunia maya, mungkin ada hal menarik yang bisa aku angkat. Tapi ternyata sama saja, isinya ya itu-itu saja. Sampai akhirnya muncul sebuah renungan (mungkin).

 

Pernah tidak kalian berpikir dalam hati ketika melihat seseorang melakukan aktivitas keseharian mereka. Contoh nih...

 

"Ih, enak ya dia, kerja, jadi bisa sekalian refreshing keluar rumah."

"Mantep ya dia, bisa rebahan sambil nonton di rumah."

"Kuliah enak kali ya."

 

Jujur-jujuran saja, aku rasa kita pernah merasakan hal semacam itu.

 

Kalau aku mau tarik kesimpulan, ketika kita beraktivitas sehari-hari yang menurut kita hal biasa, ternyata di luar sana, banyak yang menganggap hal tersebut luar biasa, bahkan bisa menjadi cita-cita. Begitu pula sebaliknya, apa yang menurut mereka biasa saja, bisa menjadi hal yang luar biasa buat kita.

 

Kalau titik kebahagiaan dihitung dari kepuasan, kita tidak bakal sampai tujuan. Karena titik terpenting dari bahagia ya bersyukur. Intinya banyak-banyak bersyukur yaa!

 

Bekasi, 26 Januari 2021

 


Sudah nonton "Barat Lebih Dari Timur"-nya Jovial da Lopez dan Andovi da Lopez? Ada yang sama kayak gua kah, pas di menit-menit terakhir merasa mata keluar air? Kalau ada, mari kita tos!

 

Enggak tau kenapa, tiba-tiba aja mata tuh berair. Sepertinya pesan dari videonya tersampaikan. Gua adalah tipe orang yang nonton youtube kalau ada yang menarik, biasanya dari mereka yang emang punya "konten".

 

Jujur, gua tertampar. Karena gua enggak bisa bohong, terkadang gua masih suka rasis walaupun tipis, mungkin tidak terucap lewat mulut dan hanya terbesit dalam otak. Kenapa gua bilang tertampar? Karena walaupun cuma terbesit, itu berarti masih ada yang salah nih dari diri gua.

 

"Yuklah dari sekarang kita mulai hapus stereotip-stereotip buruk dari otak kita."

 

Terdengar template ketika setelah gua nonton video ini terus gua bilang kalimat di atas. Tapi kalau enggak ada yang kasih ingat tentang kalimat "template" itu, bagaimana orang lain mau tau?

 

"Karena stereotip terkuat adalah yang kita tanamkan pada diri sendiri." — Andovi da Lopez

 

Kita tuh manusia punya kekuatan yang cukup bikin geleng kepala. Salah satu contohnya adalah ketika kita dikejar deadline. Pernah enggak kalian kaget pas tau kalian berhasil menyelesaikan sesuatu di detik-detik sebelum deadlinenya berakhir. Kenapa kalian bisa sehebat itu? Padahal waktunya sempit. Itu karena kita berhasil menanamkan pada diri kita bahwa kita bisa selesai tepat waktu, makanya seluruh tubuh kita bereaksi dengan cara bekerja sama mencari cara untuk menyelesaikan sesuatu hal itu.

 

Jadi kalo kita mau menghapus stereotip buruk dari otak kita, itu sangat mungkin. Masalahnya, kita mau atau tidak.

 

Jika mau, seluruh tubuh kita akan bekerja sama melawan hal tersebut. Otak akan berusaha untuk tidak berpikiran negatif, hati akan berusaha untuk tidak berprasangka buruk, mata akan berusaha untuk tidak asal menafsirkan dari padangannya yang sekilas, dan mulut akan berusaha untuk tidak berkata sebelum tahu faktanya.

 

Bekasi, 25 Januari 2021




 


Yang kuliah online, apa kabar? Sudah mulai nyaman atau malah tambah enggak karuan?

 

Kalau dihitung, sudah hampir setahun lebih kita semua beraktivitas serba online, termasuk kuliah. Pernah mikir enggak kalau kuliah seperti ini enggak ada bedanya sama nonton youtube terus autodidak.

 

Jujur, aku sih sempat berpikir seperti itu. Wong kerjaan aku lihat video, baca modul, terus praktek. Ya memang enggak di semua mata kuliah, tapi ada.

 

Terkadang juga kalau dapat dosen yang super "sibuk" modul dan videonya diambil dari tempat lain. Entah video dari youtube atau modul dari dosen lain di mata kuliah yang serupa. Terus tugas dia apa dong kalau semuanya "ambil punya orang". Koreksi? Ah, terkadang ada juga yang sengaja menyamaratakan nilai agar tidak ribet. Tapi tenang, itu hanya oknum, banyak kok mereka yang benar-benar sungguh dalam mengajar.

 

Aku pun hampir merasa seperti "kayaknya kuliah enggak kuliah sama saja, aku bisa belajar juga dari internet."

 

Tapi perasaan itu tertepis ketika aku membaca sebuah tulisan di Benang Merah Society,

"Siapa saja bisa belajar autodidak dan membuat desain keren, tetapi tidak semua orang bisa jadi desainer."

 

Berhubung aku kuliah di jurusan desain interior, jadi aku merasa perkataan itu benar. Kita kuliah desain bukan untuk sekadar bisa menjalankan aplikasi atau jadi ahli gambar, karena itu semua bisa kita pelajari dengan mudah di internet. Kita kuliah agar kita mempunyai benang merah dari apa yang kita buat, karena tujuan kita dididik untuk jadi pemecah masalah.

 

Dan aku rasa ini berlaku untuk semua hal. Tujuan kita kuliah bukan hanya untuk sekadar belajar terus dapat gelar. Semua jurusan kuliah yang ada memiliki tujuan yang sama, mendidik agar bisa menjadi pemecah masalah.

 

Jadi, agar kuliah kita enggak sia-sia, yuklah kita lebih berusaha lagi, biar kita punya warna dan biar kita enggak kelihatan seperti autodidak saja.


Bekasi, 24 Januari 2021

 


Baru aja dapet tips yang sebenarnya udah lama gua tau, tapi males banget buat mencoba tips itu.

 

Kemarin gua abis on-boarding bareng komunitas yang baru gua ikuti. Ceritanya mau cari pengalaman pas liburan gitu, semoga aja penyakit malesnya gak kambuh yak.

 

Di akhir sesi, salah satu pendiri komunitas itu bilang untuk mulai terbiasa bikin to do list biar nanti bisa bagi waktu dan gak keteteran. Awalnya gua cuma senyum-senyum tipis pas denger itu, tapi sehabis selesainya temu maya itu, gua langsung ambil kertas dan mencoba bikin untuk di kemudian harinya.

 

Walaupun tau, pasti bakal gak kecentang semua itu listnya, tapi tetep kekeuh buat coba bikin. Ya kan yang penting mulai, kalo gak dicoba, ya mana tau.

 

Hari ini, dari 6 list yang gua tulis, baru 4 list aja yang berhasil gua centang, masih sisa 2 lagi dan gak mungkin gua kejar listnya, karena itu tugas yang lumayan makan waktu lama.

 

Tapi hari ini gua merasa nyesel dan kesel, karena gua gagal buat centang semua list. Kayak ada rasa yang ganjel gitu.

 

Hari ini gua belajar, gagal dalam sebuah rencana memang menyebalkan, tapi bukan berarti kita tidak bisa menyelesaikan apa yang telah direncanakan. Kita hanya perlu waktu yang sedikit lebih lama, selalu sabar dan tetap berjalan, walau dengan perlahan.

 

Bekasi, 23 Januari 2021

 


Foto ini diambil pada 24 Januari 2016 di Gelora Bung Karno saat Mitra Kukar berhasil menjuarai Piala Jenderal Sudirman.

 

Menyaksikan pertandingan sepak bola secara langsung memberikan rasa dan kesan yang berbeda. Walau tentu lebih nyaman nonton di rumah, karena kamu bisa sambil rebahan, bisa dengan mudah ke kamar mandi, lebih mudah punya akses internet, dan masih banyak lagi kenyamanan yang bisa kamu dapatkan.

 

Walau kenyamanan tersebut tidak aku dapatkan saat menonton secara langsung, tapi itu menciptakan kenangan yang berbeda. Kamu akan melihat betapa kompaknya kita ketika meneriakkan nama tim kebanggan kita, kita begitu kompak ketika memberi semangat. Kekompakan yang mungkin selama ini sering kita cari, yang sering kita pikir kita tidak mungkin bisa kompak, tapi tribune-tribune itu mematahkan semuanya. Tribune-tribune itu memberikan bukti bahwa kita bisa kompak jika sama-sama memiliki rasa yang sama.

 

Dari tribune-tribune itu kita bisa belajar, kita bisa kompak jika kita mencintai satu hal yang sama. Jika kita ingin Indonesia kembali pulih, kita harus sama-sama memiliki keinginan itu dengan cara memilih untuk mengalah dan tidak membiarkan rasa ego kita menang.

 

Jika hanya sebagian saja, itu akan susah untuk terwujud. Bukan berarti tidak bisa, hanya akan jauh lebih susah. Karena dalam perjalanannya akan ada yang akhirnya sadar dan merapatkan barisan. Tapi tidak menutup kemungkinan akhirnya ada yang keluar dari barisan karena sudah lelah dan bosan. Karena bertahan itu susah, terlebih bertahan dalam ketidakpastian.

 

Bekasi, 22 Januari 2021

 


Sepercik api saja dapat menyebabkan kebakaran, lantas bagaimana dengan sepercik perasaan?

 

Kembali aku bersih-bersih note, mungkin ada yang sudah lama tersimpan dan belum sempat disampaikan.

 

Kalimat pembuka tersebut adalah sebuah kalimat yang terlintas pada 7 Juli 2019.

 

Pernah merasa baper? Atau pernah melihat orang yang gampang sekali membuat baper? Sebenarnya baper itu apa sih? Menurut KBBI baper adalah (ter)bawa perasaan; berlebihan atau terlalu sensitif dalam menanggapi suatu hal.

 

Banyak sekali sekarang manusia yang salah paham tentang perasaan.

Banyak sekali sekarang manusia yang ingin berperilaku baik tapi malah salah tanggapan.

 

Jadi sebenarnya siapa yang salah? Yang baper atau yang menyebabkan baper?

 

Kalau kata aku sih, tidak ada yang salah. Baper bukannya wajar ya? Yang tidak wajar itu yang memaksakan perasaan itu. Sekadar baper tidak mengapa, namanya juga perasaan, susah untuk ditahan apalagi diabaikan.

 

Begitu juga dia yang menyebabkan baper. Dia kan hanya ingin berperilaku baik, santun, ramah, friendly. Apa dia berniat membuat baper? Aku rasa tidak, mungkin karena terlalu sensitif, perilaku dia jadi dianggap sedikit adiktif, lalu membuat mereka yang menerimanya selalu ingin yang lebih.

 

Balik ke diri kita masing-masing, karena kita akan selalu memiliki sudut pandang yang berbeda, intinya satu, jangan memaksa.


Bekasi, 21 Januari 2021

 


Hola! Ceritanya dari kemarin gua tuh sakit, tapi gua kagak sadar gitu kalo gua sakit, jadi cuma terheran-heran, kok tidur mulu kerjaanya. Intinya, dari hari ke-19 emang nih otak kayaknya butuh refresh, jadi milih buat istirahat nulis dulu, kelihatan jelas banget tuh udah mulai singkat padat jelas tulisannya di hari ke-19.

 

Berhubung ini rapel dari hari yang bertema, jadi mari meluncur.

 

Jujur jika bicara soundtrack dalam hidup, kayaknya gak ada dah dalam hidup gua, karena setiap apapun yang gua denger tuh punya makna dan perasaan tersendiri gitu. Tapi ada satu yang mungkin bisa dibilang soundtrack akhir-akhir ini, yaitu Dalam Diam punyanya mas Sal Priadi.

 

"Mungkin aku masih gerimis yang kecil

'Kan jelang ku jadi petir-petir yang hebat..."

 

Ini yang akhir-akhir ini sering terngiang.

 

Sebagai pengingat juga, bahwa mungkin gua, lu, kita, masih kayak tidak terlihat, masih diremehkan, masih dinomor dua-kan, masih terlihat lemah.

 

Gak apa, akan tiba waktunya kita mulai terlihat, kita mulai diandalkan, kita mulai jadi pilihan pertama, dan kita menjadi gagah. Mungkin bukan sekarang, mungkin bukan dalam waktu dekat ini, tapi akan tiba waktunya.

 

"Ah, template lu nyemangatin kayak gitu."

 

Memang terlihat template, tapi memang begitu adanya. Jika lu berpikir tidak akan terjadi, mungkin lu hanya terjebak dalam pikiran lu saja. Mungkin lu sendiri yang selalu menganggap sesuatu yang berharga itu adalah sesuatu yang besar dan terlihat jelas.

 

Padahal mungkin sebenarnya lu sudah menjadi orang yang terlihat, orang yang diandalkan, orang yang menjadi pilihan pertama, dan orang yang gagah untuk dia yang lu tidak lihat atau tidak sadari. Karena lu hanya fokus ke hal yang lain, sehingga lu sendiri tidak sadar, kalau ternyata lu sudah berhasil.

 

Bekasi, 20 Januari 2021

 


Tarik napas, buang. Biarkan pikiranmu tenang.

 

Masih ada waktu, jangan terburu-buru.

 

Kamu tidak sedang berburu, jadi pikirkan terlebih dahulu.

 

Pelan-pelan, namun sampai tujuan.

 

Tapi jangan terlalu banyak siasat, nanti malah tidak sempat.

 

Bekasi, 19 Januari 2021

 


Bisa dibilang mengubah, tapi bisa juga dibilang pengingat. Dari beberapa buku, akhir-akhir ini buku kecil yang bisa dibawa kemana-mana ini menjadi salah satu buku yang membuatku sadar, sedih, rindu, dan banyak lagi rasa yang tidak bisa dituliskan.

 

Bukan hanya karena isinya, tapi sejarahnya. Terlihat bukan, robekan dan coretan menghiasi buku ini. Buku kecil yang sudah berumur kurang lebih 6 tahun ini adalah Arbain Nawawi. Buku ini berisi hadis-hadis yang harus aku hafal saat aku duduk di bangku SMP. Namanya boleh arbain, tapi isinya gak arbain, isinya lebih dua. Aku lupa kenapa, tapi intinya isinya lebih dua.

 

Mengapa bisa mengubahku? Ya tentu, karena isinya ilmu, sudah pasti mengubahku. Walau belum 100% aku amalkan ilmunya, tapi ya sedikit-sedikit, kadang masih suka nakal, manusia yang satu ini kadang masih bebal. Selain karena isinya ilmu, buku ini juga mengobati rindu, yang tadinya mulai goyah, setelah baca ini kembali, aku merasa seolah kembali gagah.

 

Di setiap halamannya, selalu ada kenangan, entah dari bagaimana cara aku bisa mengahafal hadisnya atau dari bagaimana akhirnya aku paham maksud hadisnya. Aku yakin, setiap buku yang kita punya, pasti punya kenangan, walau kecil. Semua buku yang kita punya, pasti juga bisa mengubah hidup kita, walau kadang tidak terasa.

 

Bekasi, 18 Januari 2021

 


"Layaknya kaki yang bisa capai, hati pun juga harus diberi kesempatan untuk santai."

 

Tidak sengaja aku menemukan tulisan asal ini di noteku, ya, terkadang ide liar suka muncul tiba-tiba. Bisa dalam bentuk tulisan yang panjang, bisa juga dalam bentuk tulisan yang singkat seperti di atas. Aku ingin mencoba menggali lebih dalam tentang tulisan singkat itu.

 

Ketika kita melangkah terlalu jauh, kita pasti akan merasakan capai, letih, dan terkadang berujung kehilangan semangat. Kita perlu sedikit rehat ketika melakukan perjalan jauh, tidak usah dipaksa untuk terus-terusan berjalan, beri kaki kita sedikit ruang.

 

Layaknya kaki, hati pun demikian. Setiap waktu selalu membantin dalam hati, akan seperti apa jika kita begini? Akan seperti apa jika kita begitu? Apakah salah jika kita begini? Mengapa dia menghilang, apa ada yang salah? Terlalu banyak spekulasi dalam hati yang kita batinkan, sehingga itu menjadi beban pikiran.

 

Pernah kan, kita merasa capai dan letih padahal kita seharian hanya tidur di atas kasur. Dari mana asal rasa itu? Mungkin rasa itu berasa dari hati, hati yang terlalu sering membatin untuk hal-hal yang tidak perlu, untuk hal-hal yang kita takuti, untuk hal-hal yang belum terjadi. Hati kita terlalu sering bekerja untuk hal-hal yang (mungkin) remeh, sehingga tanpa kita sadari mungkin raga kita tertidur, tapi hati kita selalu melantur.

 

Setiap malam, mata sudah mulai terpejam, tapi hati selalu saja merasa tidak tenteram. Entah, ada saja hal yang dirasa, hal yang sebenarnya tidak perlu kita rasa.

 

Beri sedikit ruang untuk hatimu, hati pun perlu beristirahat. Karena layaknya kaki, hati pun bisa merasa letih.

 

Bekasi, 17 Januari 2021

 


Setiap kita, pasti punya badainya masing-masing.

Setiap kita, pasti punya caranya masing-masing dalam melalui badainya.

 

Badai paling besar yang pernah aku hadapi terjadi saat aku masih kecil. Ketika aku sudah lancar berjalan, tiba-tiba aku diterpa sebuah badai yang membuatku tidak bisa berjalan.

 

Aku melewati 2 fase belajar jalan saat masih kecil dan ya, alhamdulillah aku bisa melewatinya.

 

Awalnya ketika aku bisa jalan kembali, aku kira badaiku sudah usai, ternyata itu baru permulaan saja.

 

Setelah aku bisa berjalan, aku kembali diterpa badai selanjutnya, badai yang membuatku merasa tidak percaya diri. Bagaimana tidak, setelah badai pertama itu gaya jalan-ku menjadi berbeda dari yang lain. Entah apa aku sering dihina atau tidak, aku lupa. Yang aku ingat aku pernah menjadi sangat marah ketika aku diusik karena kaki-ku. Tanganku yang mungil saat itu mencengkeram kerah anak kecil yang mengusik. Pertama kali dalam hidupku, aku memakai sedikit kekerasan(?).

 

Bukan hanya gaya berjalan, tapi aku sempat dibuat frustrasi karena tidak bisa memakai sendal, ah, kalau diingat, sungguh membuat mata ini berkeringat. Tapi aku jadi sadar, bahwa aku tidak sendiri, ketika aku frustasi karena tidak bisa pakai sendal seragam saat acara khitanan sepupuku, sepupuku yang lain akhirnya memutuskan untuk tidak pakai sendal seragam itu juga, jika diingat kembali, ah, ternyata aku tidak sendiri, akan selalu ada yang sayang denganku, apapun yang terjadi.

 

Beranjak dewasa, aku sudah mulai sedikit percaya diri. Tidak memedulikan apa kata orang, tapi ketika ada yang bertanya mengapa seperti itu gaya jalannya, sudah pasti akan ku jelaskan dan banyak dari mereka yang akhirnya paham.

 

Semakin dewasa semakin aku mengerti untuk bisa menangani badai yang masih ku lewati hingga detik ini. Seperti aku selalu memakai sepatu ke mana pun aku pergi, karena dengan beban yang lebih bisa membuat gaya jalanku terlihat biasa.

 

Semakin dewasa semakin aku memaksa untuk terbiasa dengan badai ini. Mulai dari melanggar perintah dokter untuk tidak bermain bola sampai akhirnya balik ke rumah sakit dan membuat dokter geleng-geleng kepala. Tapi dokter sempat kaget, karena dia mengira pertumbuhan kaki-ku akan sedikit melambat dan karena aku sering memaksa untuk bermain bola dan lainnya, kaki-ku akhirnya tumbuh dengan normal.

 

Ya terkadang banyak hal yang harus kita paksa, bukan memaksa kehendak, tapi lebih memaksa diri ini agar tidak menyerah pada satu badai dan tetap berdiri tegap. Karena beberapa hal memang harus dipaksa, untuk membuat kita sadar bahwa sebenarnya kita punya kemampuan yang di luar nalar kita, membantu kita sadar sebenarnya kita bisa melewati badai tersebut, jika berusaha.


Bekasi, 16 Januari 2021



Yak telat 22 menit, berhubung hari ini kerjaannya cuma nugas dan tidur, jadi belum kepikiran mau nulis tentang apa, mau bolos, tapi gak konsisten jadinya dong yak.

 

Kali ini gua mau sedikit menulis tentang griya tawang, tapi griya tawang yang ada di dunia drama, itu yang bahasa Inggrisnya penthouse. Griya tawang sendiri di KBBI memiliki makna apartemen mewah yang terletak di lantai paling atas gedung, atau yang dibangun di atas atap.

 

Barusan gua baru aja kelar nonton episode spesial dari drama yang isinya sangat mungkin kita temui di dunia nyata, terlebih di kota-kota besar. Penthouse dengan sangat gamblang menjelaskan betapa kerasnya dunia nyata, yang di mana kita dengan sangat mudah menemukan mereka yang berselingkuh dari pasangannya, memanfaatkan orang dalam untuk pendidikan maupun pekerjaan, menghalalkan segala cara agar bisa sukses, menipu orang dengan tujuan memuaskan diri sendiri, mengkhianati seseorang hanya karena bertemu dengan yang lebih menggiurkan, dan yang sangat jelas adalah kebiasaan berbohong dengan alasan yang beraneka ragam.

 

Dari Penthouse kita bisa mengambil garis besar bahwa hidup di dunia ini keras bosku! Yang kuat yang bertahan. Bukan hanya fisik, tapi mental pun juga. Lapang dada dan mudah memaafkan mungkin bisa menjadi senjata ampuh yang bisa kita gunakan untuk melalui kehidupan yang keras ini.

 

Bisa jadi secara fisik kamu terlihat lemah, tapi secara mental kamu mudah memaafkan sehingga jika ada sebuah masalah besar yang datang, kamu menyelesaikannya dengan kepala yang dingin.

 

Aduh, udah mulai ngaco gak sih? Atau perasaan gua aja ya.

 

Tapi kalau mau bahas tentang drama Negeri Ginseng, ada satu perkataan teman gua yang sangat nyantol banget di otak.

 

"Nah ini nih yang mahal dari cerita: riset. Yang gak ada di Indonesia, selain biaya naik haji yang emang mahal banget dan butuh bertahun-tahun buat nabungnya."

 

Agak gak nyambung yak? Tapi itu deh pokoknya, semoga ada pesan yang bisa diambil yak dari tulisan yang panjang ini, semoga.

 

Bekasi, 15 Januari 2021

 


Kalau kalian mencari orang yang ramah kepada siapa saja, kalian harus datang ke tempatku, karena itu cuma ada di tempatku.

 

Di tempatku, kalian bisa mengobrol dengan siapa saja tanpa harus berkenalan. Terkadang ada juga yang sampai jadi curhat colongan, biasanya karena sudah nyaman, akhirnya jadi kebablasan. Ada juga yang berakhir dengan saling tukar sosial media agar bisa kembali saling terhubung.

 

Kalau kalian mencari orang yang sopan kepada siapa saja, kalian harus datang ke tempatku, karena itu cuma ada di tempatku.

 

Di tempatku, kalian bisa melihat betapa sopannya orang-orang di sana. Selalu memberi salam dan bahkan berjabat tangan kepada siapa saja yang ditemuinya. Yang lebih muda biasanya salim kepada yang lebih tua dan yang lebih tua biasa mengusap kepalanya si yang lebih muda. Ada juga mereka yang saking sopannya, jika ditanya arah, mereka tidak menggunakan jari telunjuk, mereka menggunakan ibu jari agar terlihat lebih sopan, sangat detail bukan orang-orangku.

 

Masih banyak hal yang kalian bisa temui di tempatku. Jika dijabarkan, mungkin bisa jadi sebuah buku.

 

Di tempatku atau lebih sering di sebut Indonesia, kalian bisa menemukan banyak keragaman yang mungkin akan membuat kepala kalian menggeleng takjub.

 

Makanya, aku sangat sayang sama tempatku, walau terkadang membuatku sedikit kesal, tapi ia masih memiliki banyak hal yang bisa aku banggakan.


Bekasi, 14 Januari 2021



"Itu bukan tentang keahlian. Aku hanya bekerja keras sampai tubuhku terasa lelah." — Kim Eung-soo (Abang Gorengan di Baek Jong-won's Alley Restaurants Eps.191)


Pernah iri sama kemampuan orang lain enggak? Pasti pernah lah yak, mungkin ada yang terucap lewat mulut, ada juga yang akhirnya cuma terucap di dalam hati.


Mungkin banyak dari mereka yang ahli memang sudah memiliki bakat sedari kecil, tapi tidak sedikit juga dari mereka yang awalnya tidak bisa apa-apa, sekarang malah menjadi ahli.


Ada yang suka makan mi instan tapi belum sepenuhnya mateng? Pasti ada, dan itu membuktikan bahwa memang manusia cenderung suka yang instan, padahal yang instan itu terkadang lebih rawan.


Selalu bilang "Kok dia hebat ya."

Tapi saat bilang itu, posisi kita sedang berleha-leha di atas kasur. Sedangkan mereka yang sedang dipuji lagi perang melawan rayuan kasur.


Mereka yang ahli, bakal hilang keahlian kalau tidak diasah.

Mereka yang tidak bisa apa-apa, bakal punya keahlian kalau mereka terus berusaha.


Mereka yang ahli, selalu melawan rasa berpuas diri agar selalu bisa berkembang.

Mereka yang tidak bisa apa-apa, selalu melawan rasa malas agar bisa mulai berkembang.


Kita masing-masing punya beban yang berbeda. Jangan selalu mencari pembeda kalau akhirnya hanya untuk membela.


Bekasi, 13 Januari 2021 

 


Tema kali ini cukup berat sepertinya buat gua, bukan berarti gua gak ada cerita tentang bantu temen, tapi lebih kayak mikir, harus cerita yang seperti apa. Jadi mungkin hari ini akan sedikit lebih santai penyampaiannya. Membiarkan otak dan jari-jari ini menari dengan bebas.

 

Sebenarnya kalo denger kalimat "Bantu Teman", ada satu hal yang sudah setahun ini selalu terbesit di otak dan selalu membuat rindu. Hal tersebut adalah momen saat gua dan teman-teman kampus lagi ngerjain tugas di selasar gedung. Dari selasar itu rame sampe selasar itu sepi, kita masih berkutat di sana, berlomba-lomba dengan waktu.

 

Banyak mata yang tertuju ke arah kami, mungkin dalam benaknya,

"Ini ngapain sih gelar kertas gede-gede, gambar di depan gedung, rame-rame, kayak apa aja dah."

 

Tapi apa yang kami lakukan melihat itu, ya kami cuek. Mau bagaimana lagi, ruangan yang bisa kami pakai cuma bisa diakses kalo ada dosennya saja, kalo gak ada, ya harus cari tempat lain. Perpustakaan? Percayalah, meja di sana gak nampung kertas A2. Kenapa gk ngemper di perpustakaan? Percayalah, kami gak bisa hening ngerjainnya, pasti akan selalu ada yang tiba-tiba teriak karena pusing, karena gak paham, karena laper, karena banyak hal.

 

Cuma selasar kampus yang bisa kami jadikan tempat nugas, ya walau ada teras tempat makan yang sering kami pakai, tapi tetap saja kami tahu diri, makan sedikit, nugasnya sampe tempatnya mau tutup. Bahkan pemilik tempatnya saja sudah best friend banget sama kami.

 

Lah kok, bantu temannya ada di sebelah mana? Di detik-detik terakhir ngerjain tugas, biasanya kami mulai saling bantu. Sebenarnya gak detik-detik sih, kami dari awal sudah saling bantu, mulai dari saling bantu ngerjain tugas, bantu ngabisin makanan teman, bantu gangguin teman, pokoknya banyak lah, kita selalu saling bantu, suka maupun duka, anjai.

 

Intinya, kalo kamu suka bantuin orang, mau itu teman, musuh, mantan, pacar teman, atau siapapun itu, percaya deh, saat kamu susah, bakal ada yang bantuin kamu, entah itu siapa, entah itu berwujud apa. Tapi yang jelas, gua kangen kampus beserta isinya.


Bekasi, 12 Januari 2021

 


"Ngegas mulu lu mah."

"Gak usah marah kali."

"Jutek amat sih."

"Ih dia baek banget ama gua."

"Sumpah, gua dikasi perhatian mulu sama dia."

 

Sebenarnya salah paham sudah sering terjadi sebelum pandemi ini datang, tapi semenjak pandemi, salah paham lebih sering terjadi, terutama saat kita sedang chatting.

 

Balas singkat, dibilang cuek.

Balas dengan huruf kapital, dibilang marah.

Balas dengan huruf akhir dilebihkan, dibilang terlalu perhatian.

Balas dengan emotikon, dibilang berlebihan.

Balas dengan tanda seru dibelakang, dibilang ngegas.

 

Sebuah pesan yang menurut kita biasa saja, bisa jadi menurut orang lain tidak.

 

Padahal pesan itu tidak bernada, lantas tahu dari mana kita kalau lawan bicara kita sedang marah? sedang senang? sedang sedih?

 

Karena pesan yang tidak bernada ini seringkali membawa kita kepada salah paham yang sangat beragam.

 

Ada yang akhirnya jadi berantem, ada juga yang akhirnya jadi kesengsem.

 

Ada yang mengira lawan bicaranya punya rasa, padahal lawan bicaranya hanya berusaha ramah.

 

Ada yang mengira lawan bicaranya sedang marah, padahal lawan bicaranya hanya tidak bisa melihat gawainya terlalu lama.

 

Mungkin untuk banyak orang, itu hanya terasa diawal, tapi setelah mengenal lebih dalam, biasanya kita akan tahu kalau ternyata memang gaya lawan bicara kita seperti itu.

 

Sebenarnya kita hanya perlu memahami dan menangkap apa yang lawan bicara kita sampaikan. Tidak perlu melebihkan dan tidak perlu mengurangkan.

 

Tidak perlu melebihkan, menyamakan pesan yang terlihat ramah dengan nada yang manja.

 

Tidak perlu mengurangkan, menyamakan pesan yang terlihat cuek dengan nada yang jutek.

 

Cukup untuk kita saling memahami agar bisa saling meladeni.


Bekasi, 11 Januari 2021