Eh, udah hari ke-30 ya.

 

Tahun ini banyak banget yang dirapel, mungkin karena lelah, jadi kadang sering lupa buat nulis.

 

Ya sudah, pamit ya, mau istirahat dulu.

 

Buat kamu yang masih sibuk mengejar, coba istirahat sebentar, pelan-pelan yang penting kelar.

 

Sukabumi, 30 Januari 2020

 


Et iya, keasikan di luar, sampe lupa kalo tulisan belom kelar.

 

Intinya cuma mau ingetin, yang dikekang bisa jadi membangkang. Yang dilepas, bisa jadi terlalu bebas.

 

Semua sudah ada porsinya, jangan dilebihin, jangan dikurangin, terlebih lagi jangan dipaksain.

 

Sukabumi, 29 Januari 2020

 


Bandung akan selalu membuat bingung. Ada cinta yang datang entah dari mana. Ada rindu yang tak kunjung bertemu. Ada rasa yang selalu membuat bahagia. Menjadi tempat yang selalu dirasa tepat.


Bandung, 28 Januari 2020

 


Beberapa jam lalu tidak sengaja melihat ke arah langit yang dihinggapi beberapa bintang. Sebenarnya banyak bintang yang harusnya terlihat hinggap di langit, tapi karena cahaya lampu, cahaya alami itu menjadi tidak terlihat.

 

Sama seperti hidup, banyak hal-hal alami yang sebenarnya lebih indah dari hal-hal yang dibuat dengan sengaja. Tapi terkadang karena kita yang tidak sabar, hal-hal alami tersebut menjadi terhalang kehadirannya dalam hidup kita. Yang seharusnya kita bisa memanfaatkan hal-hal alami, kita justru malah ketergantungan dengan hal-hal yang buatan.

 

Paham gak maksudnya? Kalau belum paham, coba pahami yaa.


Bekasi, 27 Januari 2020

 


Beberapa pesan dari Paus Tsana tahun lalu di GWRF,

 

"Menulis dengan sifat bodo amat ternyata enak!"

 

"Kesedihan manusia perlu dituliskan."

 

"Tulisan yang tulus akan menemukan pembacanya."

 

"Menulis bukan hal yang harus diselesaikan sekali duduk. Selesaikan apa yang sudah kita mulai!"

 

"Memperkenalkan karya dengan apa adanya."

 

"Gaya tulisan tidak bisa dibohongi."

 

"Jika terus merasakan hal negatif, maka hal positif tidak akan dimulai."


Jakarta, 26 Januari 2020

 


"I'm on a crossroad, i can't believe, i want to stop, i'm going too fast" - ARAH


Sesuatu yang buru-buru itu emang gak bagus, tapi kadang ada kok yang karena di-buru-buru-in malah jadi bagus, tapi tetap saja kebanyakan gak bagus.


Kadang karena terburu-buru, kita malah merasa jadi terburu. Harusnya bisa jadi bagus, malah jadi seperti ayam hangus, pahit.


Mau berhenti sebentar di tengah, tapi takut lengah, karena batas waktu sudah melebihi setengah.


Memang, lebih baik pelan, yang penting jalan. Lebih baik sedikit-sedikit, dari pada jadi rumit, dan merasa terhimpit.


Kadang yang pelan saja masih sering jadi beban, apalagi yang buru-buru, bisa-bisa nanti hasilnya jadi gak bermutu.


Sebenarnya kita sadar buru-buru itu gak baik, tapi kadang saat buru-buru itu semangat malah sering naik.


Ya, namanya juga manusia, sukanya main kejar-kejaran sama cita-cita. Padahal cita-citanya masih nunggu dengan sabar, dan gak nyuruh untuk dikejar sampai melupakan batas wajar.


Bogor, 25 Januari 2020

"Gak usah takut, dikit lagi juga ganti hari."

 

Sebenarnya ini mantra sudah sering sekali aku gunakan, tapi belum pernah aku jadikan sebuah tulisan, hanya sebatas pemikiran. Baru kali ini aku aplikasikan ke dalam tulisan.

 

Mantra yang selalu aku pegang ketika aku takut dengan hari yang akan datang. Seperti hari ujian—tapi belum sempat belajar, hari terakhir pengumpulan tugas—tapi tugasnya belum selesai, hari ketika gak megang uang, hari ketika aku disuruh tampil di depan umum, dan hari hari lain yang membuatku takut.

 

Tapi ketika aku takut, aku selalu memikirkan kalimat tadi. Gak usah takut, dikit lagi juga ganti hari. Gak usah takut, dikit lagi juga berakhir. Gak usah takut, percaya besok akan lebih baik. Gak usah takut, kamu sudah berusaha semampu kamu.

 

Kadang ketika memikirkan kalimat itu, gak tahu kenapa, aku jadi lebih rileks. Kayak, ya kalo dimarahin tinggal dimarahin, kalo disalahin ya manggut aja, kalo gagal ya coba lain waktu.

 

Gak usah takut, semua usaha yang sudah kita lakukan gak akan berakhir sia-sia, Sang Pencipta pasti punya rencana yang lebih indah dari apa yang kita duga.

 

Jadi, teruslah berjalan, dan nikmati prosesnya.


Jakarta, 24 Januari 2020

 


"Emang lu doang yang cape, gua juga cape kali."

 

"Emang lu doang yang belom makan, gua juga belom kali."

 

Dan emang-emang yang lainnya.

 

Setiap orang punya titik lemahnya masing-masing, gak bisa disamain. Sering banget denger kata-kata kayak gitu. Padahal, apa salahnya kalau dia capek duluan, apa salahnya kalau dia laper duluan, toh kita gak punya hak buat ngelarang kan.

 

Padahal gak susah lho untuk jawab kayak gini, "Yaudah, makan dulu sana, nanti lanjut lagi."

 

"Yaudah, istirahat dulu sana, nanti lanjut lagi."

 

Sering juga aku mendengarkan perbandingan-perbandingan yang seharusnya gak terdengar. Karena, adakalanya seseorang cerita ke kita hanya minta untuk didengarkan, bukan minta untuk dibandingkan.

 

Hidup itu tentang menerima dan memberi bukan

 

Jika kamu saja tidak mau memberi yang baik, apakah pantas kamu menerima yang baik juga?


Jakarta, 23 Januari 2020

 

Meskipun kalian tidak sedarah, kalian bisa menjadi keluarga. Meskipun kalian sedarah, kalian bisa menjadi orang asing. Begitukah manusia saat ini? (Ms. Hammurabi/미스 함무라비 [2018])

 

Sering kamu temui di kehidupan sehari-hari seseorang yang sering membantumu, mendengarkan keluh kesahmu, dan memberikan banyak bantuan untukmu, padahal dia bukan siapa-siapa, bahkan mungkin kamu pun baru mengenalnya.

 

Sering juga kamu temui, seseorang yang cuek denganmu, acuh denganmu, tak menganggap keberadaanmu, padahal dia memiliki hubungan darah denganmu.

 

Terkadang kamu sudah sangat percaya kepadanya, banyak menaruh harap padanya, tapi ternyata kamu malah diberi kecewa.

 

Dan acap kali kamu juga menganggap seseorang sebagai angin lalu, tak menanggapi kehadirannya, dan bahkan tak percaya kepadanya, tapi ternyata dia-lah yang selalu ada untukmu, memberi banyak harap untukmu.

 

Manusia memang seteka-teki itu bukan.


Jakarta, 22 Januari 2020

 


Pertengahan 2019 lalu, aku sempat bertemu dengan Ariqy Raihan atau lebih sering disapa Bang Rere. Saat itu aku memang sangat ingin belajar tentang kesalahan-kesalahan dalam menulis cerita. Banyak hal yang aku dapat, tapi ada satu yang sangat membekas dalam otak, yaitu "Menulis Buruk" dan tema menulis buruk itu dibahas dalam buku yang aku unggah ini.

 

Mumpung tema kali ini adalah "Tips", mungkin itu bisa menjadi tips buat kita semua dalam menulis. Ketika kita hendak menulis, jangan takut karena tulisan kita buruk. Karena semua yang bagus berasal dari sesuatu yang buruk. Lagi pula "Sesuatu yang kacau pun tetap lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali." (Creative Writing, hal.13 - A. S. Laksana)

 

Bang Rere merekomendasikan buku itu kepadaku, karena buku itu bisa menjadi pedomanku dalam menulis, dan sayangnya buku itu sudah susah sekali kita temukan dalam bentuk fisik. Tapi jangan takut, di Google Play Books masih tersedia kok.


Bekasi, 21 Januari 2020


"Terkadang tanpa sadar ku menyakiti seseorang dan kukehilangan dirimu untuk pertama kalinya, kutahu bahwa kutelah melakukan dosa." (King Gnu - 白日/Hakujitsu)


Pernah gak sih merasakan perubahan sifat seseorang. Seperti seseorang yang dulunya dekat dengan kamu, kemudian tanpa kamu tahu sebabnya, dia pergi menjauhi kamu.

 

Terkadang tanpa kamu sadari, mungkin kamu sering menyakiti perasaannya. Mungkin bukan dengan tangan, melainkan dengan lisan. Atau mungkin juga dengan perilaku yang membuatnya merasa tidak nyaman jika berada di sampingmu.

 

Jadi, jika merasa ada yang aneh, coba cari ruang untuk sendiri, dan mulai merefleksi diri. Ada yang salah mungkin, atau bahkan ada yang kelewatan.

 

Jika dirada kebablasan, coba putar haluan. Masih banyak kesempatan, untuk merubah keadaan. 


Jakarta, 19 Januari 2020



Jika tulisan-tulisan di blog ini diberi sinopsis, mungkin akan jadi seperti ini. Tulisan ini aku tulis di salah satu tulisan yang sempat aku unggah ke Wattpad. Tapi berhubung sudah nyaman dengan Instagram dan Blog, jadi ya Wattpad jarang disentuh, bahkan sudah hampir tidak pernah.

 

Jadi, silakan baca sinopsisnya!

 

"Tidak bertema bukan berarti tidak bermakna, karena terkadang sesuatu yang tidak sengaja bisa menjadi awal untuk sesuatu yang istimewa.

 

Ini bisa jadi cerita, tapi bisa juga ini hanya sekadar keluh kesah.

 

Ini bisa jadi sebuah rangkaian puisi, tapi bisa juga ini hanya sekadar intuisi.

 

Boleh jadi ini adalah sajak, tapi tidak menutup kemungkinan kalau ini hanya sekadar tulisan acak

 

Atau mungkin juga ini bisa jadi sebuah pengingat untuk diri ini, tapi bisa jadi ini hanya untuk sekadar basa-basi.

 

Bagi kamu yang merasa sepi, boleh mampir kesini, mungkin saja kita bisa saling mengisi.

 

Tulisan ini bebas untuk siapa saja. Jika itu memang untuk dirimu, mungkin kamu akan sedikit tersentuh. Tapi jika bukan untuk dirimu, kamu bisa menganggap ini semua hanya angin lalu."


Bekasi, 17 Januari 2020




Pernah gak kamu berada dalam posisi sedang punya masalah yang kamu gak tahu jalan keluarnya. Tiba-tiba gak ada angin gak ada hujan, datang seseorang menceritakan masalahnya, dan masalah yang dialami olehnya sama seperti masalah yang sedang kamu hadapi.

Dan ketika kamu mendengarkan masalahnya, mencoba memahaminya, dan menghadapinya dengan rileks. Kamu justru malah berhasil memberinya solusi.

Agak aneh, dan mungkin terheran-heran. Tapi mungkin itu adalah salah satu cara Sang Pemilik Semesta membantu kamu, membantu kita untuk menghadapi masalah yang kita kira tidak ada ujungnya, tidak ada jalan keluarnya.

Hidup memang seperti rubik. Yang awalnya beraturan, kemudian berantakan, tapi akan selalu ada jalan keluar untuk memperbaiki keadaan.


Jakarta, 17 Januari 2020


Ada beberapa hal yang sering kita anggap sebagai kesialan, tapi ternyata malah sering menjadi kenikmatan yang kita tidak duga.

Salah satunya adalah "Lupa".


Baru beberapa menit yang lalu aku merasakan hal yang (biasanya) ku anggap sial, tapi tadi dia malah menjadi penyelamat.


Aku sering sekali menyelipi uang kembalian di semua penjuru kantong. Lalu tadi kebetulan aku sama sekali tidak memegang uang cash, tapi tenggorokan malah memaksaku untuk segera membasahinya.


Iseng-lah cek semua kantong, dan jeng jet. Di salah satu kantong terselip selembar kertas bergambar wajah Tuanku Imam Bonjol. Senangnya bukan main, sumpah.


Terima kasih Sang Pencipta karena telah menciptakan sifat lupa.


Kadang banyak hal yang kita anggap tidak baik, ternyata malah baik untuk kita begitu pun sebaliknya.


"...Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqoroh: 216)


Jakarta, 15 Januari 2020

 


Bertahan bukan tanda nyaman.

 

"Sekarang kalo gak nyaman gak mungkin bisa hampir setahun."

 

Beberapa hari lalu, aku dapat pesan dari entah siapa, tapi ada.

 

Kalau bicara bertahan, kita semua bisa bertahan, mau pun itu gak nyaman, tapi karena sudah sayang, kadang jadi dipaksakan.

 

Sudah berusaha nyaman, tapi malah disia-siakan. Bahkan malah disakiti, bukan fisiknya, tapi hatinya.

 

"Meninggalkan orang yang menyakitimu tidak sulit. Kau tinggalkan saja dia." (Cloak and Dagger)

 

Jangan terlalu lama memendam, gak baik buat badan.

Jangan terlalu lama bersedih dalam diam, gak baik buat kesehatan.

Jangan terlalu banyak memberi kesempatan, jika pada akhirnya kembali diulang.

 

Kalau memang sayang, tanpa harus diperingatkan, seharusnya sudah bisa memperbaiki diri dan hubungan.

 

Masalahnya bukan terletak pada bisa atau tidak bisa. Letak masalahnya itu pada mau atau tidak mau.

 

Percuma bilang "Aku bisa berubah!", kalau tidak disertai dengan kemauan untuk berubah.

 

Semua orang bisa, tapi gak semua orang mau.


Jakarta, 14 Januari 2020

 


Banyak hal sederhana yang bisa membuat kita bahagia. Bisa jadi itu hanya sebuah kalimat yang tidak panjang, tapi dapat memberi kita napas yang lebih panjang.

 

Seperti hari ini, beberapa detik sebelum berakhirnya waktu untuk mengumpulkan tugas, aku dapat kabar kalau ternyata tugasnya dikumpulkan dua hari lagi.

 

"Kok kalian ngumpulin sekarang, kan hari kamis ngumpulinnya."

 

Sederhana, tapi bikin hati bahagia.

 

Terkadang memang kita tidak sadar, bahwa hanya dengan sebuah kalimat sederhana, hati seseorang bisa bahagia.

 

Tapi jangan lupa juga, terkadang ada juga kalimat yang sangat sedikit, tapi malah bikin hati sakit.


Jakarta, 13 Januari 2020

 


Menulis itu enak, bisa nyindir orang lain tanpa harus menyindirinya secara langsung. Tapi banyak juga kok yang suka nyindir diri sendiri, terlebih lagi yang nulis ini dan baca ini.

 

Gapapa, kadang kita perlu merasakan jatuh jika ingin bangkit dari rapuh.

 

Jakarta, 12 Januari 2020

 


"Oh iya, kemaren belom nulis buat #30HBC20. Yang ada aja deh, belom dapet ide."

 

"Nih hari nulis apa yak?"

 

"Abis bikin terurai harus nulis, bodo amat."

 

"Nge-PES se-match sabi kali ya."

 

"Yah iya, lupakan mau nulis, emang dasar!"

 

"Abis nebelin dah nulisnya."

 

"Lah, udah malem aja. Belom dapet ide juga lagi, elah."

 

Dan akhirnya nulis ini deh. Kadang emang ide itu suka datang kapan saja dan di mana saja, bahkan lebih sering muncul di tempat-tempat yang biasa kita pakai untuk meditasi, paham lah ya maksudnya.

 

Intinya begitu deh ya, langsung pamit nih, gak bisa lama-lama, tugasnya masih banyak kayak hama.


Bekasi, 11 Januari 2020

 


yang singkat bisa jadi erat.

yang lama bisa jadi sia-sia.

yang iseng bisa jadi langgeng.

yang serius bisa jadi hangus.

yang diam bisa jadi menikam.

yang ceria bisa jadi sengsara.

yang merana bisa jadi bahagia.

 

Bekasi, 10 Januari 2020

 


Lagi asik ngerjain tugas, tiba-tiba keinget sama sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Mudir di mahad.

 

"Jangan sekali-kali pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati."

 

Padahal denger kalimat itu dua tahun lalu, dan sekarang baru merasakan. Memang nasihat itu tidak selalu terpakai saat kita pertama kali mendapatkannya, bisa jadi beberapa hari setelahnya, beberapa bulan setelahnya atau beberapa tahun setelahnya.

 

Dari kemarin malam sudah berkutat dengan tugas, dan rasanya seperti gak ada beban saat mengerjakannya, ngalir begitu saja. Ya walaupun gak tahu itu benar atau salah tugasnya, tapi kayaknya enjoy-enjoy saja saat menggarap tugas-tugas itu.

 

Pernah tahun lalu mampir ke mahad, dan bertemu salah satu adik kelas yang memang hobi menggambar. Saat melihat tugas-tugasku waktu itu, dia berkata, "Kalo lu suka, sebenernya tugas lu tuh enak."

 

Belum berhenti sampai di sana, aku bertemu dengan salah satu guruku, dan beliau bertanya tentang jurusan yang aku ambil. Setelah mengetahui jurusanku, wajah dia langsung berubah jadi happy dan berkata, "Wih, enak dong gambar-gambar mulu kerjaannya."

 

Memang segala sesuatu harus dijalani dengan hati yang penuh. Walau pasti di tengah jalan bakal jenuh, ya gak apa, namanya juga hidup.

 

"Percayalah jargon CHILL itu cuma penyemangat doang."

 

Pernah ada yang nulis kalimat diatas. Walaupun hanya sebatas jargon, tapi jika dengan kata chill saja semangat kita bisa balik lagi, kenapa gak dicoba.

 

Waktunya bilang CHILL 👌!


Bekasi, 9 Januari 2020


Kalau ditanya, siapa yang perlu kita beri apresiasi, pasti banyak jawabannya. Tapi kali ini, izinkan aku mengapresiasi diriku sendiri dan kamu yang sekarang sedang membaca.

 

Untuk kita,

Terima kasih karena telah berjuang dan selalu terlihat riang.

Terima kasih karena telah berusaha dan selalu terlihat memiliki asa.

Terima kasih karena tetap berusaha berjalan, walau selalu saja ada rintangan.

Terima kasih karena sudah bertahan, walau selalu saja ditekan.

 

Aku tahu ini berat, tapi selalu ingat, ada Dia yang selalu dekat.

Aku tahu ini tak mudah, tapi percaya, akan selalu ada doa yang entah dikirimkan oleh siapa.

Aku tahu kita telah berjuang, tapi aku yakin, kita bisa lebih baik dari sekarang.

 

Jangan menyerah, karena perjalanan ini pun belum sampai setengah.

Tak apa berkeluh kesah, asal jangan sampai putus asa.

 

Terima kasih untuk segalanya.

Terima kasih telah berjuang walau lelah.

Terima kasih tetap berusaha walau susah.


Bekasi, 8 Januari 2020

 


"Gambar mulu lu kayak anak TK."

 

Sering banget denger atau dapet pesan kayak gitu, wajar, mereka belum tahu. Padahal anak TK juga belum tentu bisa gambar kayak yang kita gambar.

 

Dari SD sampai bulan Agustus tahun kemarin, setiap kali disuruh gambar selalu gambar "Gedung Sate", memang objek itu selalu menjadi andalan (padahal mah emang kagak tahu mau gambar apa lagi).

 

Saking buta banget sama yang namanya gambar-menggambar, sampai-sampai waktu pertama kali disuruh dosen buat gambar, aku malah bikin ulah. Disuruh gambar di A3, aku gambar di A3, tapi sebelum aku gambar, di tengah-tengah A3 aku bikin kotak se-A4, terus aku gambar di kotak A4 itu. Emang anaknya kelewat pinter.

 

Dari yang bikin titik-titik, garis-garis, sampe bikin bentuk (yang bentuknya sendiri pun bingung sebenarnya dia bentuk apa) sudah mulai diicipi dikit-dikit. Dan kenyataan itu semua susah, susah karena belum terbiasa. Mungkin kalau sudah terbiasa, sambil merem pun itu semua gambar bisa kelar kali.

 

Kita-kita saja yang bukan anak TK bisa ambyar pas bikin gambarnya, bagaimana kalau anak TK yang gambar, bisa-bisa nanti mereka jadi sobat ambyar sejak dini lagi.

 

Intinya, pelan-pelan saja, jangan buru-buru, yang penting tepat waktu. Kalau sudah penat, ambil istirahat, jangan dipaksa.

 

Semangat buat yang lagi mengerjakan tugas! Dapet salam dari para JOKI!


Jakarta, 7 Januari 2020

Mumpung lagi di jalan pulang, jadi ingin menulis perihal pulang.

Dulu, saat masih berasrama, pulang adalah kata yang paling dinanti. Tapi untuk saat ini "pulang" tidak seindah dulu. Mengapa? Setiap kali pulang ke rumah, badan sudah meronta-ronta meminta untuk segera direbahkan. Sekalinya badan tidak meminta direbahkan, otak meminta untuk segera digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk.


Dan waktu untuk bercerita dengan orang rumah menjadi sangat dikit, terkadang ketika sedang asyik bercengkerama, ada saja yang mengganggu, entah ada yang nanya tugas atau ada yang ingin sekadar iseng saja.


Tapi walaupun kata "pulang" tidak seindah dulu, yakinlah bahwa ada yang menanti di rumah. Mungkin dia tidak menyapa atau mengajakmu bicara, tapi ketika kamu terlelap, diam-diam dia selalu datang dan memerhatikan wajahmu begitu lama. Karena ada rindu yang sudah lama menetap, tapi tak kunjung juga terucap. 


Jakarta, 6 Januari 2020

 


"Adek mau duduk gak?" Terdengar samar suara seorang ibu yang bertanya kepada anaknya.

 

Melalui bibir mungilnya, sang anak menjawab dengan suara yang manja, "Gak mau, mau sama bunda! Sayaang bunda."

 

Aku yang tepat berdiri di samping keluarga kecil itu hanya tersenyum, entah, seketika hati terasa hangat melihat kelakuan anak kecil itu.

 

Itu hanya salah satu contoh dari sekian banyak hal yang aku temui di Koridor 9.

 

Setelah tahun lalu resmi menjadi seorang mahasiswa, hampir setiap pagi aku harus berangkat menggunakan Transjakarta Koridor 9. Rute yang terkenal dengan keramaiannya.

 

Setiap harinya selalu saja ada kejadian yang kadang bikin senyum-senyum sendiri, bikin garuk-garuk kepala, bikin tarik napas, macem-macem lah pokoknya.

 

Menurutku sendiri, Transjakarta adalah miniatur masyarakat, eh, bukan gitu harusnya. Intinya dari transjakarta kita bisa belajar hidup bermasyarakat. Karena di dalamnya kita bisa menemukan banyak sekali karakter-karakter yang beraneka ragam. Dari yang penyabar hingga si tukang ngedumel.

 

Jika ingin mencari tahu seberapa sabar kamu, coba deh sesekali cobain naik Transjakarta Koridor 9 di jam-jam kerja. Kalo masih merasa kurang tertantang, coba naiknya saat hari senin pagi atau tidak jum’at malam. Coba aja, kalo gak kuat, ya turun di halte berikutnya.


Jakarta, 5 Januari 2020

 


Visinema, kalian rese!

 

Sama seperti tahun lalu, perfilman Indonesia kembali memaksaku untuk mengisi saldo M-Tix lebih awal.

 

Mas Angga Dwimas Sasongko, kamu berhasil mengolah karya Kak Marchella FP dengan indah.

 

Film ini jahat, kita hanya diberikan sedikit kesempatan untuk naik, selebihnya? Kita dibawa turun, turun sejauh-jauhnya. Alih-alih memberikan kesempatan naik di akhir, kalian malah membawa kita jauh ke bawah. Luar biasa.

 

Rachel Amanda Aurora berhasil menjadi Awan yang lugu dan selalu ingin tahu. Rio Dewanto pun demikian, berhasil menjadi Angkasa yang selalu terlihat perkasa. Dan untuk Sheila Dara Aisha, dia adalah kejutan yang paling mengejutkan di film ini. Sungguh.

 

Film ini kembali menyadarkan, bahwa di sekitar kita ada sesosok orang yang pura-pura bahagia untuk membuat sekitarnya bahagia.

 

Menyadarkan kembali bahwa sedih itu perlu dirasa, direnungi, bukan untuk dibiarkan berlalu, dan berpura-pura menganggap itu tidak terjadi.

 

Manusia memang perlu dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya agar sadar bahwa bumi bukan berputar untuk dia saja.

 

Saking terlalu egoisnya, sering manusia menjadi makhluk yang maha tahu, tanpa sempat bertanya apa yang sebenarnya orang lain mau.

 

"Lari ke mana pun kamu mau, lari sejauh apa pun itu, lari sekencang-kencangnya kamu mampu.

Tapi, masalahmu tidak akan pergi.

Dia ada di sana, di belakangmu.

Sampai kamu berani, berbalik arah dan hadapi" - Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini


Bekasi, 4 Januari 2020

 


Selalu merasa dikejar waktu, padahal kita yang selalu menyia-nyiakan waktu. Diberi waktu yang panjang, tapi malah terlalu lama ancang-ancang.

 

Kita memang hebat, ketika batas waktu sudah dekat, baru kita gerak cepat. Terlalu fokus dengan tugas, sehingga lupa caranya bernapas.

 

Karena takut kehabisan waktu, semua dikerjakan secara terburu-buru. Ketika salah, langsung kehilangan arah, dan bawaanya ingin marah.

 

Memang rehat adalah tindakan yang paling tepat ketika kita sudah kehilangan semangat. Jangan dibiarkan penat, nanti malah enggak sehat.

 

Walau nanti kedepannya (mungkin) bakal terulang, tapi anggap saja ini sebagai pelajaran. Yang perlu diperbaiki, bukan hanya diratapi.


Jakarta, 2 Januari 2020

 


Ada yang sudah berjanji ingin lebih baik lagi dan telah membuat daftar panjang tentang resolusi, tapi ketika pagi datang di awal bulan Januari, ia masih terlelap dalam lautan mimpi.

 

Karena untuk berubah menjadi lebih baik, kita tidak perlu menunggu pergantian bulan, atau bahkan tahun. Yang kita butuhkan hanya sedikit pergerakan, karena sekeren apapun resolusi yang kita inginkan, jika tidak ada pergerakan, mana bisa merubah keadaan.

 

Rebahan boleh, tapi jangan lupa sama kewajiban. Malas boleh, tapi jangan lupa kita juga punya tugas.

 

Tapi, jangan sampai karena ingin mencapai semua resolusi, kita jadi lupa diri, memforsir diri untuk mengejar, hingga bablas melawati batas wajar.

 

Intinya, gerak saja dulu, gak apa pelan, yang penting sampai tujuan.


Bekasi, 1 Januari 2020